Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-reformed/63

e-Reformed edisi 63 (4-7-2005)

Semangat Reformasi

                         SEMANGAT REFORMASI
                         ==================

  "Bila kita menimbang dan mencermati dengan hati-hati seluruh
  perjalanan reformasi ini, kita akan mendapati bahwa Ia telah
  mengendalikan penuh, melalui metode-metode yang menakjubkan bahkan
  bertentangan dengan semua yang kita harapkan. Kepada kekuatan
  inilah, karena itu, yang telah seringkali Ia kedepankan demi kita.
  Marilah di tengah segala kerumitan pergumulan kita, kita gantungkan
  diri penuh dan utuh." (John Calvin)

  "Sejauh gereja menyesuaikan diri dengan dunia, dan kedua komunitas
  itu tampak kepada para pengamat mereka sebagai sekadar dua versi
  dari satu hal yang sama, gereja tengah menentang jati diri
  sejatinya. Tidak ada komentar lebih menyakitkan bagi orang Kristen
  daripada kata-kata. `Tetapi Anda tidak beda dari orang lain.`"
  (John Stott)

Gereja, dan kehidupan Kristen yang tidak terus-menerus mengalami
reformasi dapat diumpamakan seperti kehidupan dan alam yang mengalami
kemerosotan tanpa peremajaan.

Untuk mempertahankan kehidupan, Allah mengatur agar sel-sel tubuh
kita terus-menerus mengalami proses penggantian dan peremajaan.
Sel-sel tubuh kita sampai usia tertentu diganti dengan sel-sel baru.
Demikian juga dalam alam terjadi hal yang sama. Tanah gersang musim
kemarau berganti menjadi tanah subur musim penghujan. Daun-daun tua
layu dan rontok, tetapi daun-daun muda bersemi segar menggantikan
yang tua dan mati tadi. Apa yang kita saksikan dan alami dalam
kehidupan dan alam, tadi adalah lukisan nyata bekerjanya kuasa
pembaruan Allah yang beroperasi terus-menerus menopang dan
mempertahankan kehidupan. Dia yang menciptakan segala sesuatu terus
menopang mempertahankan ciptaan-ciptaan-Nya agar dapat berlangsung
terus.

Reformasi pada dasarnya seirama dan seprinsip dengan rehabilitasi,
rekonsiliasi, regenerasi yang terjadi dalam alam dan kehidupan. Bila
demikian, bolehlah kita katakan bahwa gereja dan orang Kristen yang
tidak terus-menerus mengalami reformasi bertentangan dengan kerinduan
Allah agar ciptaan-Nya (baik alam maupun Gereja sebagai ciptaan baru)
terus diperbarui-Nya. Tidak mengalami reformasi seumpama menggunakan
gergaji tua, usang, dan tumpul untuk menggergaji batang kayu yang liat
dengan akibat gergajinya yang rompal dan bukan kayunya yang putus.

MENGAPA DIPERLUKAN REFORMASI TERUS-MENERUS?

Di dalam realitas dunia ini, beroperasi dua kekuatan: kekuatan
kehidupan dan kekuatan kematian. Kekuatan kematianlah yang
menyebabkan sel-sel tubuh kita menua, organisme-organisme mengalami
pelapukan dan peluruhan. Secara langsung atau tidak langsung,
penyebab penuaan yang menuju kematian pada manusia itu adalah dosa.
Andaikata manusia tidak berdosa di dalam Adam, untuk manusia mungkin
sekali proses tersebut tidak berakhir di jurang kematian, tetapi ke
gelombang-gelombang samudera kematangan dan keindahan hidup.

Kekuatan kehidupan adalah cara Allah untuk mempertahankan
kelanggengan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, reformasi pada intinya
selaras dengan maksud Allah untuk menjaga kelestarian hidup ini.

Mengapa gereja dan kehidupan Kristen harus dan perlu mengalami
reformasi terus-menerus? Karena gereja masih dalam dunia yang berdosa
dan dosa masih dapat menyusup dalam bentuk struktur dan kehidupan
gereja yang tidak selaras dengan dinamika kebenaran firman Allah.
Bahaya-bahaya penyimpangan dalam gereja-gereja yang disurati para
rasul, baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam era selanjutnya
terutama dalam era pra reformasi membuktikan perlunya pembaruan terus-
menerus.

Selain harus setia memelihara Injil dan bertumpu pada kebenaran firman
Allah, gereja dari zaman ke zaman bertugas mengkontekstualkan isi dan
penghayatan imannya ke dalam situasi dunianya. Dunia kita kini tidak
lagi sama dengan dunia para apologet atau para bapa gereja abad
pertengahan, bahkan sudah jauh berbeda dari zaman era reformasi
sendiri. Berbagai perumusan teologis yang pernah dibuat para pendahulu
kita perlu dikaji ulang sebab perumusan tersebut dibuat agar relevan
dengan zaman mereka. Mereka mencoba menyajikan kebenaran firman Allah
dalam paradigma yang diambil dari konteks pemahaman zaman itu. Jika
kita ingin lebih segar memahami isi iman kita dan lebih mampu
mengkomunikasikan apa yang kita imani kepada orang sezaman kita, kita
pun perlu menggumuli dan mengungkapkan ulang kebenaran firman yang
kekal itu dalam paradigma-paradigma baru yang lebih sesuai dengan
zaman ini. Sebagai contoh, menjelaskan kelahiran kembali kepada para
cendekiawan zaman ini mungkin lebih tepat menggunakan gambaran "format
ulang" dari dunia komputer. Alasan lain mengapa kita perlu menggumuli
ulang cara mengungkapkan isi iman kita ialah karena tradisi yang kita
pegang kini merupakan warisan teologi Barat. Adalah lebih efektif bila
sari kebenaran Ilahi itu coba kita tuangkan dalam pola pikir yang
lebih sesuai dengan konteks kita di Indonesia.

APA SAJA YANG PERLU DIREFORMASI?

Semua segi pemahaman iman dan penghayatan kehidupan Kristen kita
sehari-hari! PERTAMA, isi iman yang kita pahami haruslah benar-benar
bersumberkan Alkitab, bergumul di tengah-tengah konteks kebudayaan
dan kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini, sehingga isinya
sekaligus sinambung dengan tradisi gereja dari abad ke abad, namun
kontekstual dan kontemporer.

KEDUA, kita memerlukan kuasa firman yang dihidupkan Roh Kudus agar
mampu menghayati iman kita kepada Kristus secara riil, segar,
dinamis. Penghayatan iman Kristen kita tidak boleh berpuas diri
sebatas penghayatan iman pribadi seperti perihal keselamatan pribadi,
tetapi harus mampu mewujudkan dirinya dalam keterlibatan yang nyata
di tengah-tengah pergumulan masyarakat Indonesia yang pluralistis
masa kini. Dalam garis ini, perlu sekali diperhatikan ketulusan
orang-orang Kristen dalam berbangsa dan bernegara sebagai manifestasi
pengabdian kita kepada Allah, Tuhan atas sejarah. Juga kebutuhan
sangat mendesak masa kini ialah keberanian orang-orang Kristen untuk
mempraktikkan kebenaran dan menyuarakan kebenaran seiring dengan
menyatakan kesalahan dan konsisten menghindari hal-hal yang tidak
etis.

KETIGA, dalam dunia yang sedemikian pesat dibanjiri oleh kemudahan-
kemudahan karena teknologi tinggi, ibadah-ibadah kita harus diisi
dengan seluruh aspek liturgis yang sejati, segar dan riil. Bila
khotbah-khotbah loyo membosankan, bila puji-pujian lesu menjemukan,
bila persekutuan semu dan dangkal, akan habislah ibadah kita ditelan
imbas banjir alat hiburan yang membanjiri pasar. Untuk itu kita
memerlukan keberanian agar tidak kolot mempertahankan pola, bentuk,
dan isi liturgi yang tidak lagi menampung kesegaran Injil, kehangatan
kasih, kekayaan kreativitas untuk menampung penyampaian uraian
firman, puja sembah, dan persekutuan kita satu dengan lain.

INTI SEMANGAT REFORMASI

Jiwa reformasi seperti yang ditemukan Luther, Zwingli, Calvin, John
Knox, dan lain-lain. itu tidak lain adalah seperti yang disiratkan
dalam moto reformasi: Sola Gracia, Sola Fide, Solo Christo, Sola
Scriptura. PERTAMA, Reformasi menemukan ulang realitas anugerah
penyelamatan Allah dalam Kristus melalui iman semata. Dengan kata
lain, hubungan yang riil dan intim dengan Allah, itulah yang ditemukan
Luther dan Calvin dan yang menopang mereka terus sampai ajal mereka.

KEDUA, media yang melaluinya Allah memimpin mereka menemukan
pemahaman dan penghayatan segar indah itu ialah Alkitab. Alkitab
sejak itu menjadi suatu kitab terbuka. Seluruh umat bebas membaca dan
menimba dari dalamnya aliran-aliran air kehidupan dan arus tenaga
pembaruan. Problem masa kini ialah tanpa sadar umat telah kembali
bergantung pada "kepausan" baru, yaitu para teolog dan pengkhotbah.
Reformasi ulang akan terjadi bila awam tidak lagi awam dalam
pemahaman Alkitab!

KETIGA, Reformasi pada intinya mensyukuri fakta bahwa semua warga
gereja adalah imam-imam Perjanjian Baru. Kita semua adalah gereja,
imamat yang rajani. Masing-masing kita memiliki karunia untuk
dibagikan dan tanggung jawab untuk dipikul, yaitu mewartakan
pekerjaan-pekerjaan besar Allah kepada sesama kita dan saling melayani
membangun tubuh Kristus.

KEEMPAT, Reformasi sebenarnya adalah penolakan terhadap teologi
skolastisisme. Teologi pra reformasi telah membuat iman menjadi
sesuatu yang rumit dan ruwet. Bukan saja teologi telah dilacurkan
dengan filsafat zamannya, melainkan juga kesalehan pun telah dibuat
rumit dengan berbagai aturan selibat, ziarah, penyembahan patung, dan
lain sebagainya. Reformasi menemukan bahwa iman Kristen adalah
kemerdekaan, adalah perayaan, adalah kesukaan yang dapat dipahami dan
dihayati siapa saja yang terbuka pada kasih karunia-Nya.

Iman yang riil, kuasa firman, kenyataan tubuh Kristus, dan kesalehan
yang ceria, itulah yang kita sangat perlukan terjadi kembali secara
baru masa kini!

======================================================================

Bahan di atas diedit dari sumber:
---------------------------------
Judul buku   : Menerbangi Terowongan Cahaya
Penulis      : Paul Hidayat
Penerbit     : PPA, Jakarta, 2002
Hal          : 54 - 58

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org